Terdengar suara dedaunan bergesekan oleh angin.., Mentari pun tak
enggan memberikan cahayanya yang hangat.., Suasana di pegunungan begitu damai.,
Sudah lebih dari 100 tahun kurasakan suasana seperti itu...
Aku adalah pohon tua yang berdiri di antara suasana seperti itu
setiap harinya.., Setiap pagi aku menghirup gas karbondioksida dan menyerap air
untuk bahan makanan yang aku masak.., Dengan bantuan matahari, aku memasak dan
mengahasilkan gas oksigen untuk manusia dan hewan...
Aku adalah pohon terbesar di pegunungan., Seorang gadis kecil dan
teman-temannya memanggilku Mutiara, Si Pohon Tua... Daunku begitu lebat dan
berkumpul sehingga membentuk bulat., Siang atau pun malam , daunku memantulkan
sinar mentari atau pun bulan yang memebuatku seperti mutiara besar di
pegunungan...
Setiap pagi sampai sore, gadis kecil dan teman-temannya bermain di
bawah daun-daunku yang teduh..., Mereka berteduh dan bermain dengan sangat
gembira. Namun lama-kelamaan mereka tumbuh menjadi dewasa..., Mereka tidak lagi
bermain di bawah dedaunku...
Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak gadis kecil dan teman-temannya
meninggalkanku.., Pohon-pohon lain di sekitarku pun satu per satu ditebang..,
Aku semakin kesepian. Tak ada yang merawatku. Buahku pun membusuk di rantingku
lalu jatuh ke tanah. Daun-daunku juga berguguran. Tanah di sekitarku kotor oleh
daun dan buah yang membusuk. Burung-burung juga tak berkicau dan membuat
sarangnya di rantingku lagi. Yang tertinggal hanyalah sarangnya yang tak
berpenghuni. Yang dapat kulakukan pun hanya menunggu sesuatu yang ditentukan
oleh Tuhan.
Suatu hari ada seorang gadis cantik jelita menemuiku. Ia mengelusku
dan menatapku dengan iba. Ia membersihkan buah dan dedaunan yang busuk di
sekitarku. Kemudian ia beristirahat di bawah daun-daunku yang rimbun. Dia
menulis sesuatu di sebuah buku sambil bersenandung.
Sekarang aku ingat. Gadis itu adalah gadis kecil yang sama 10 tahun
yang lalu. Andai aku bisa bicara dengannya, aku akan berterimakasih padanya.
Namun aku juga sudah bahagia dengan adanya gadis kecil di sampingku.
Setiap pagi ia menemuiku. Membersihkan halaman di sekitarku dan
memberiku cukup air. Namun suatu hari saat gadis kecil menemuiku, ia mengelusku
dan menangis di bawah daun-daunku. Aku bingung, mengapa ia menangis? Aku ingin
menghiburmu. Duduklah di bawah daun-daunku yang teduh. Bersenandunglah untukku.
Aku akan menjagamu, gadis kecil.
Namun di hari itu ia tidak bermain di bawah daun-daunku. Ia pergi.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Andai aku punya kaki, aku akan mengejarmu.
Keesokan harinya, banyak orang yang menghampiriku. Apakah mereka
ingin bermain denganku? Hatiku sangat bahagia. Akan tetapi, mereka malah
menebangku. Aku sedih, mungkin ini sudah saatnya aku ditebang. Aku memang pohon
tua yang tak berguna.
Saat ditebang, aku melihat gadis kecil menatapku dengan rasa iba.
Maafkan aku, gadis kecil. Aku tak dapat bersamamu lagi. Padahal aku ingin
selalu di dekatmu.
Seluruh daunku dipangkas dan dibakar. Ranting-rantingku dijemur dan
dijadikan kayu bakar. Buah-buahku yang masih bagus dijual. Batangku dibuat
menjadi kursi goyang. Aku hidup di kursi goyang tersebut. Aku diletakan di
dalam sebuah rumah. Setiap hari aku diduduki oleh seorang gadis cantik. Tidak
lain gadis itu dalah gadis kecil...
Aku senang. Ia masih bersenandung untukku. Terimakasih, Allah!
Sekarang aku dapat memberikan kenyamanan lagi untuk gadis kecil. Bahkan sampai
tua pun gadis kecil masih bersamaku.... : )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar